Tirta Yatra ke Pura Menjangan

Posted: Oktober 10, 2010 in artikel, lain-lain, Pura
Tag:, , ,

Pada tanggal 7 Oktober 2010 Saya bersama dengan teman teman yang berjumlah 22 orang  mengadakan acara Tirta Yatra ke Pura Segara Giri Dharma Kencana. Pura ini berada di sebuah pulau kecil di kawasan Taman Nasional Bali Barat, tepat di ujung barat laut pulau Bali. yang biasa disebut dengan nama Pulau Menjangan. Hari ini merupakan hari kedua saya mengunjungi Pulau nan indah ini, karena setahun yang lalu saya sudah pernah kesini. Tidak banyak yang berubah…………hamparan perahu, sejuknya hembusan angin di atas tenangnya air laut biru membentang menyejukkan setiap mata yang melihatnya.

Secara administratif pulau Menjangan ini masuk wilayah Desa Labuhan Lalang, Kecamatan Gerokgak, Kabupaten Buleleng. Jaraknya sekitar 140 km dari Denpasar lewat Tabanan dan Gilimanuk dengan waktu tempuh kurang lebih 3 jam menggunakan kendaraan pribadi atau sekitar 3,5 jam menggunakan bis. Jalur kedua kita bisa melalui Singaraja, yaitu Denpasar – Bedugul – Singaraja – Labuhan Lalang. Jalur ini lebih lama, sekitar 4 jam lebih dan medannya relatif berat karena melewati Bedugul. Menariknya jalur ini adalah kita akan melewati Bedugul yang terkenal dengan pemandangan danau serta udaranya yang segar. Masalahnya, jalan yang berkelok-kelok naik turun akan membuat fisik kita kelelahan.  Jalur lain adalah Denpasar – Pupuan – Seririt – Labuhan Lalang. Jalur ini tergolong paling cepat karena seperti “memotong” jalan tengah Pulau Bali. Melalui jalur ini, kita bisa melihat suasana pedesaaan Bali di pegunungan seperti Pupuan. Jalur ini sangat jarang dipakai pengunjung. Padahal bisa menghemat waktu setengah jam hingga satu jam. Dari titik penyeberangan Labuhan Lalang kita masih harus menyeberang selama 35 menit menggunakan perahu. Tarif sewa perahu untuk penumpang yang mau sembahyang ke Pura menjangan ini Rp 180 ribu bolak-balik dengan penumpang maksimal 12 orang.  Kalau untuk turis, lokal ataupun asing, harganya sekitar Rp 300.000.

Selama perjalanan menyebrangi lautan menuju pura Menjangan kita akan disuguhi pemandangan yang sangat menakjubkan, Laut hijau membentang luas dengan terumbu karangnya yang masih alami terjaga juga tiupan angin sepoi sepoi basah, membuat kita makin menyadari kebesaran Sang pencipta alam semesta ini. Nun jauh disana terlihat hamparan pulau nan indah membentang. Selama  perjalanan kami juga menemui banyak sekali turis lokal maupun dari manca negara yang ikut menikmati alam kita tercinta ini.

Ada beberapa pura besar di pulau dengan areal seluas kurang lebih 6000 hektar ini antara lain :  Pura Klenting Sari, Pura  Kebo Iwa ( Pendopo Bhatara Lingsir Kebo Iwo ), Pura Gajah Mada ( Pendopo Bhatara Lingsir Gajah Mada ), Pura SangHyang Siwa Pasupati dan Pura Segara Giri Dharma Kencana yang letaknya berurutan dari bagian selatan ke utara lalu ke barat. Sebenarnya ada satu tempat suci lagi yang tidak sempat saya kunjungi seperti halnya tahun lalu letaknya di tepi barat pulau ini, namun pada kesempatan kali ini saya dan rombongan tidak bisa kesana karena keadaannya kurang memungkinkan. Mudah mudahan suatu saat nanti saya bisa mengulas keberadaan tempat suci tersebut.

Pura pertama yang kami datangi adalah Pura Taman / Pura Beji yang letaknya paling selatan atau pada areal yang paling dekat dari dermaga tempat kami berlabuh.  Ada hal yang sedikit mengejutkan disini yaitu adanya air suci atau tirta di Pura ini yang berbeda dengan tirta di tempat lain, jangan kaget karena di pura Taman Beji tirtanya terasa asin, mungkin karena pura ini memang terletak di Pulau kecil yang dikelilingi lautan bahkan sangat dekat dengan laut.

Dari pura pertama, kami melanjutkan perjalanan menuju pura kedua, yaitu Pendopo Ida Bhatara lingsir Kebo Iwa . Disini kita akan melewati jalan setapak dengan hamparan rumput kering di antara tanah pulau yang keras seperti karang namun tidak mengurangi keindahan alam disini . Hal menarik dari Pendopo Ida Bhatara lingsir Kebo Iwo adalah di bagian dalam pura terdapat patung Kebo Iwo. dimana menurut pemangku setempat, seusai sembahyang kita sungkem di depan patung Bhatara Lingsir Kebo Iwo ini untuk mohon anugrah dan kekuatan.

Selanjutnya Saya dan rombongan menuju suatu bangunan suci berarsitektur cina, dimana di dalamnya terdapat patung Dewi Kwan Im lengkap dengan  ornamen ornamen yang khas seperti naga, lampion, dan atap oriental menghias di pura ini. Di tempat ini kita sembahyang tidak menggunakan sarana persembahyangan seperti biasa melainkan dengan sarana dupa yang jumlahnya 1,3,5 dst dalam jumlah yang ganjil.

Pura selanjutnya yang kami tuju adalah Pendopo Ida Bhatara Lingsir Dalem  Gajah Mada  yang letaknya berdekatan dan lebih luas dan besar dibanding Pendopo Bhatara Lingsir  Kebo Iwa. Mungkin karena nama patih penakluk Nusantara pada masa Majapahit ini memang lebih terkenal dibanding Kebo Iwa. Uniknya di salah satu tugu Pendoo Bhatara Lingsir Gajah Mada terdapat patung menjangan. Di tempat yang menyerupai pendopo ini terdapat patung Maha Patih Gajah Mada di bagian dalamnya dan di luarnya terdapat patung kuda. Kebetulan seusai sembahyang di pura Gajah Mada ini kami sempat melihat sepasang menjangan menghampiri kami di areal pura tersebut. Sepasang menjangan itu jadi pemandangan tersendiri di pulau menjangan ini.

Kemudian kami melanjutkan persembahyangan ke pura berikutnya yaitu Pura SangHyang Siwa Pasupati. pura ini berarsitektur Bali dengan warna putih yang sangat dominan. dari beberapa sisa bangunan yang kami lihat kemungkinan pura ini baru selesai di pugar atau di perbaiki. di sebelah kanannya terdapat pelinggih penyawangan Ida Betara Lingsir Watu renggong. Di balik atau pada bagian belakang dari pura SangHyang Siwa pasupaati ini berdiri Arca Ganesha yang sangat megah menghadap ke arah laut. Disini juga kita melakukan persembahyangan yang berbeda seperti sembahyang di India, namun di bagian depan sudah ada cara atau petunjuknya sehingga kita bisa melaksanakan persembahyangan dengan kusuk.

Selesai sembahyang di sini, kami menuju pura terakhir, yaitu Pura Segara Giri Dharma Kencana. Menurut sejarah Pura ini dibangun pada masa kerajaan yang di pimpin raja Dalem Watu Renggong. Hal unik dari  pura ini adalah bangunannya yang terbuat dari bahan lokal. Dinding ataupun pura itu sendiri terbuat dari campuran semen dengan bahan batu setempat yang dipecahkan kecil-kecil. Jadi puranya tidak terbuat dari batu bata atau batu padas, sehingga Pura ini juga dominan berwarna putih.

Setelah selesai melakukan persembahyangan di Pura Giri kencana ini, kamipun mengakhiri perjalanan sepiritual ini melalui jalan utara. Di sisi utara pulau ini terdapat dermaga kecil seperti halnya di bagian selatan. Bedanya dermaga ini lebih panjang dengan medan yang lebih curam. Dari sinilah kami pulang dengan menyisakan sejuta kenangan.

Komentar
  1. Gita mengatakan:

    osa..
    suka banget sama tulisannya..
    semoga dalam waktu dekat bisa kesana juga..
    osso..

  2. Bayu Buduh mengatakan:

    sangat menarik, terimakasih semoga tulisan ini bisa menjadi referensi untuk menambah rasa kecintaan kita terhadap warisan leluhur kita. adakah prasati atau sumber sejenis yang dapat memperkuat keberadaan pura-pura di sana sehingga kami tahu sejarahnya? terimakasih sebelumnya.

    • dikmang2 mengatakan:

      terima kasih, semoga di lain kesempatan saya bisa menulis lagi dengan menambahkan sumber baik dari prasasti, lontar maupun peninggalan yg sejenis untuk lebih memperkuat isi tulisannya.

  3. besok kita ke pura menjangan,,,,,,,,,, smoga diberi keselamatan oleh hyang widi ^_^

  4. tirta yatra ke pura menjangan ^_^

  5. Lanank Wijanegara mengatakan:

    bli bisa di info ga kontak person untuk perahu penyebranganya, soalntya saya ada rencana mau tangkil kesana

    suksma

    • dikmang2 mengatakan:

      Maaf, kontak person perahunya hilang dr handphone saya, sedikit tyang kasi gambaran, Kalau hendak tangkil kesana perahu sudah standby menunggu dg perkiraan biaya sekarang sekitar 200 ribuan kapasitas 12 orang. suksma

  6. Komang mengatakan:

    Suksma sudah disuguhkan dengan tulisan pd gala an yang me aril.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s