Welcome the problem

Posted: Agustus 4, 2010 in artikel, Renungan
Tag:

Masalah memang bisa menghentikan kita untuk sementara waktu.
Tetapi hanya kita lah satu-satunya orang yang bisa menghentikannya
secara permanen.

Selamat datang masalah. Apakah anda takut berhadapan dengan masalah?
Kebanyakan orang tidak menyukai masalah dan melakukan apa saja untuk
menghindarinya. Kalau kita mengerti apa itu masalah, maka sebenarnya
tidak perlu kita terlalu khawatir. Justru itu menunjukkan bahwa kita
memiliki tujuan, memiliki arah yang kita inginkan

Setiap kita membuat keputusan, dan merancang apa-apa yang akan kita
lakukan untuk mencapai tujuan, maka sejak saat itu siap-siaplah untuk
selalu menghadapi masalah. Itu normal. Pekerjaan kita selanjutnya memang
adalah menghadapi dan menyelesaikan masalah. Terus saja kita berjalan.
Jika tiba-tiba terjadi apa yang tidak diinginkan, atau hasil pekerjaaan
atau proyek kita ternyata jauh berbeda dari apa yang sudah direncanakan,
tentu tidak perlu kita mengeluh. Segera saja kita kembali ke jalan yang
seharusnya. Koreksi sedikit, dan kembali melanjutkan perjalanan.

Dalam menghadapi masalah, manusia terbagi tiga. Ada sekelompok orang
yang hidupnya mengeluh saja terhadap masalah. Awalnya hanya masalah
kecil, namun karena terus dipelototin dan terus aja dibolak-balik, maka
tampaklah masalah itu jadi amat besar dan kian menakutkan.

Lalu ada sekelompok orang lagi yang ia bisa menerima masalah itu sebagai
sebuah “takdir” lalu kemudian ia fokus pada solusi. Mata dan pikirannya
tidak lagi terus melihat saja kepada masalah itu, tapi bertanya dan
mencari tahu, bagaimana cara mengatasinya. Pikirannya ia fokuskan pada
penyelesaian. Dan ajaib sekali otak manusia, biasanya dengan mudah orang
ini bisa menyelesaikannya.

Sedangkan kelompok yang ketiga adalah manusia-manusia yang tidak hanya
bersabar dan menerima masalah itu, melainkan ia tetap mensyukurinya
sebagai anugerah Allah yang ia maknai sebagai “ujian ketrampilan”, ujian
keimanan, ujian kesabaran, ujian kesempurnaan perjalanan ruhaninya,
ujian terhadap kemanusiaannya. Sehingga dengan demikian, apabila ia
berhasil melampauinya, maka naik kelas lah ia, makin dekat kepada Tuhan,
dan makin hebat ketrampilannya, makin sempurna kemanusiaannya.

Mereka-mereka ini tidak melihat masalah sebagai hal yang negatif,
melainkan melihatnya sebagai jalan dan metoda meningkatkan kemampuan,
pengetahuan, keahlian dan keimanannya, sehingga naiklah derajatnya baik
di mata manusia, maupun di hadapan Tuhan Allah. Ia menganggapnya sebagai
peluang meningkatkan derajat kesempurnaannya. Alhasil, jadilah ia makin
sempurna, makin hebat pula keahliannya, dan makin tinggi pula ilmunya.

Alkisah ada 2 orang sahabat sedang berbincang-bincang.
A: “Saya ini adalah orang yang paling disukai Allah.”
B: “Apa buktinya?”
A: “Saya adalah orang yang tidak pernah diberi cobaan oleh Allah”.
B: “Justru engkau orang yang paling jauh dari Allah. Sebab orang yang
tidak pernah diberi cobaan, berarti Allah tidak ingin mengujinya.”

Jadi gimana? Apakah anda setuju kalau kita bersikap, “welcome the problem?”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s