Perbuatan penuh arti

Posted: Agustus 4, 2010 in artikel, Renungan
Tag:,

Pelajaran Penting-1:
Pengorbanan dan bukti Kasih…

Pada bulan ke-2 di awal kuliah saya, seorang Profesor
memberikan quiz mendadak pada kami. Karena kebetulan
cukup menyimak semua kuliah-kuliahnya, saya cukup
cepat menyelesaikan soal-soal quiz, sampai pada soal
yang terakhir. Isi Soal terakhir ini adalah :
Siapa nama depan wanita yang menjadi petugas pembersih
sekolah? Saya yakin soal ini cuma “bercanda”. Saya sering
melihat perempuan ini.
Tinggi, berambut gelap dan berusia sekitar 50-an, tapi
bagaimana saya tahu nama depannya…? Saya kumpulkan
saja kertas ujian saya, tentu saja dengan jawaban
soal terakhir kosong.

Sebelum kelas usai, seorang rekan bertanya pada
Profesor itu, mengenai soal terakhir akan “dihitung” atau
tidak. “Tentu Saja Dihitung !!” kata si Profesor. “Pada
perjalanan karirmu, kamu akan ketemu banyak orang.
Semuanya penting ! Semua harus kamu perhatikan dan
pelihara, walaupun itu cuma dengan sepotong senyuman,
atau sekilas ‘hallo’ !”

Saya selalu ingat pelajaran itu. Saya kemudian tahu,
bahwa nama depan ibu pembersih sekolah adalah “Dorothy”.

Pelajaran Penting-2:
Penumpang yang Kehujanan..

Malam itu, pukul setengah dua belas malam. Seorang
wanita negro rapi yang sudah berumur, sedang berdiri di
tepi jalan tol Alabama. Ia nampak mencoba bertahan dalam
hujan yang sangat deras, yang hampir seperti badai.

Mobilnya kelihatannya lagi rusak, dan perempuan ini
sangat ingin menumpang mobil. Dalam keadaan basah kuyup,
ia mencoba menghentikan setiap mobil yang lewat.Mobil
berikutnya dikendarai oleh seorang pemuda bule, dia
berhenti untuk menolong ibu ini. Kelihatannya si bule
ini tidak paham akan konflik etnis tahun 1960-an, yaitu
pada saat itu.

Pemuda ini akhirnya membawa si ibu negro selamat hingga
suatu tempat, untuk mendapatkan pertolongan, lalu mencarikan
si ibu ini taksi. Walaupun terlihat sangat tergesa-gesa,
si ibu tadi bertanya tentang alamat si pemuda itu, menulisnya,
lalu mengucapkan terima kasih pada si pemuda.

7 hari berlalu, dan tiba-tiba pintu rumah pemuda bule
ini diketuk seseorang. Kejutan baginya, karena yang datang
ternyata kiriman sebuah televisi set besar (1960-an !)
khusus dikirim kerumahnya. Terselip surat kecil tertempel di
televisi, yang isinya adalah : ” Terima kasih Nak, karena
membantuku di jalan Tol malam itu. Hujan tidak hanya membasahi
bajuku, tetapi juga jiwaku. Untung saja anda datang dan
menolong saya. Karena pertolongan anda, saya masih sempat
untuk hadir di sisi suamiku yang sedang sekarat… hingga
wafatnya. Tuhan memberkati anda, karena membantu saya dan
tidak mementingkan dirimu pada saat itu”
Tertanda
Ny. Nat King Cole

Catatan : Nat King Cole, adalah penyanyi Afrika-Amerika tenar
thn. 60-an di USA

3. Pelajaran penting ke-3
Selalulah perhatikan dan ingat, pada semua yang anda layani.

Di zaman es-krim khusus (ice cream sundae) masih murah,
seorang anak laki-laki umur 10-an tahun masuk ke Coffee Shop
Hotel, dan duduk di meja.

Seorang pelayan wanita menghampiri, dan memberikan air putih
dihadapannya. Anak ini kemudian bertanya ” Berapa ya,… harga
satu ice cream sundae ?” katanya. “50 sen…” balas si pelayan.
Si anak kemudian mengeluarkan isi sakunya dan menghitung dan
mempelajari koin-koin di kantongnya…. “Wah… Kalau ice cream
yang biasa saja berapa ?” katanya lagi.

Tetapi kali ini orang-orang yang duduk di meja-meja lain sudah
mulai banyak… dan pelayan ini mulai tidak sabar. “35 sen”
kata si pelayan sambil uring-uringan. Anak ini mulai menghitungi
dan mempelajari lagi koin-koin yang tadi dikantongnya.
“Bu… saya pesen yang ice cream biasa saja ya…” ujarnya.

Sang pelayan kemudian membawa ice cream tersebut, meletakkan
kertas kuitansi di atas meja dan terus melengos berjalan.
Si anak ini kemudian makan ice-cream, bayar di kasir, dan pergi.
Ketika si Pelayan wanita ini kembali untuk membersihkan meja
si anak kecil tadi, dia mulai menangis terharu. Rapi tersusun
disamping piring kecilnya yang kosong, ada 2 buah koin 10-sen
dan 5 buah koin 1-sen. Anda bisa lihat… anak kecil ini tidak
bisa pesan Ice-cream Sundae, karena tidak memiliki cukup untuk
memberi sang pelayan uang tip yang “layak” ……

4. Pelajaran penting ke-4:
Penghalang di Jalan Kita

Zaman dahulu kala, tersebutlah seorang Raja, yang menempatkan
sebuah batu besar di tengah-tengah jalan. Raja tersebut
kemudian bersembunyi, untuk melihat apakah ada yang mau
menyingkirkan batu itu dari jalan.

Beberapa pedagang ter-kaya yang menjadi rekanan raja tiba
ditempat, untuk berjalan melingkari batu besar tersebut.
Banyak juga yang datang, kemudian memaki-maki sang Raja,
karena tidak membersihkan jalan dari rintangan.

Tetapi tidak ada satupun yang mau melancarkan jalan dengan
menyingkirkan batu itu.

Kemudian datanglah seorang petani, yang menggendong banyak
sekali sayur mayur. Ketika semakin dekat, petani ini kemudian
meletakkan dahulu bebannya, dan mencoba memindahkan batu itu
kepinggir jalan. Setelah banyak mendorong dan mendorong, akhirnya
ia berhasil menyingkirkan batu besar itu.

Ketika si petani ingin mengangkat kembali sayurnya, ternyata
ditempat batu tadi ada kantung yang berisi banyak uang emas
dan surat Raja. Surat yang mengatakan bahwa emas ini hanya untuk
orang yang mau menyingkirkan batu tersebut dari jalan.

Petani ini kemudian belajar, satu pelajaran yang kita tidak
pernah bisa mengerti. Bahwa pada dalam setiap rintangan,
tersembunyi kesempatan yang bisa dipakai untuk memperbaiki
hidup kita.

5. Pelajaran penting ke-5:
Memberi..

Ketika dibutuhkan Waktu itu, ketika saya masih seorang sukarelawan
yang bekerja di sebuah rumah sakit, saya berkenalan dengan seorang
gadis kecil yang bernama Liz, seorang penderita satu penyakit
serius yang sangat jarang.

Kesempatan sembuh, hanya ada pada adiknya, seorang pria kecil
yang berumur 5 tahun, yang secara mujizat sembuh dari penyakit
yang sama. Anak ini memiliki antibodi yang diperlukan untuk
melawan penyakit itu.

Dokter kemudian mencoba menerangkan situasi lengkap medikal
tersebut ke anak kecil ini, dan bertanya apakah ia siap
memberikan darahnya kepada kakak perempuannya.

Saya melihat si kecil itu ragu-ragu sebentar, sebelum mengambil
nafas panjang dan berkata “Baiklah… Saya akan melakukan hal
tersebut…. asalkan itu bisa menyelamatkan kakakku”.

Mengikuti proses tranfusi darah, si kecil ini berbaring di tempat
tidur, disamping kakaknya. Wajah sang kakak mulai memerah,
tetapi Wajah si kecil mulai pucat dan senyumnya menghilang.

Si kecil melihat ke dokter itu, dan bertanya dalam suara yang
bergetar…katanya “Apakah saya akan langsung mati dokter… ?”
Rupanya si kecil sedikit salah pengertian. Ia merasa, bahwa ia
harus menyerahkan semua darahnya untuk menyelamatkan jiwa kakaknya.
Lihatlah… bukankah pengertian dan sikap adalah segalanya…. ?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s